Terus Menyampaikan Kebenaran I Oleh : FAJAR KURNIANTO
Dikisahkan, ketika dakwah Islam, yakni menyampaikan kebenaran risalah Ilahi yang dilakukan oleh Rasulullah SAW semakin gencar di Makkah, orang-orang Quraisy mengirimkan utusan untuk menemui Abu Thalib.
Mereka meminta paman Rasulullah tersebut untuk membujuk keponakannya agar menghentikan dakwahnya. Pada saat Rasulullah SAW pulang ke rumah, Abu Thalib menyampaikan pesan utusan Quraisy itu kepadanya.
Abu Thalib mengatakan, “Wahai anak saudaraku, orang-orang Quraisy tadi menemuiku, lalu memintaku untuk menyampaikan kepadamu supaya engkau menghentikan dakwahmu. Maka, jagalah diriku dan dirimu. Jangan engkau beri aku beban yang tidak sanggup aku tanggung, tidak pula engkau. Hentikanlah dakwahmu terhadap kaummu yang membuat mereka membencimu.”
Mendengar penuturan pamannya, Rasulullah SAW merasa bahwa pamannya sudah tak lagi mendukungnya. Nabi SAW kemudian memberi tanggapan, “Wahai pamanku, andaikata matahari diletakkan di atas tangan kananku dan bulan diletakkan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan dakwah kebenaran ini hingga Allah memberiku kemenangan atau aku binasa di jalan dakwah ini.”
Setelah mengucapkan kata-kata ini, air mata Rasulullah SAW meleleh di pipinya, menangis tersedu-sedu. Sambil menangis, Nabi SAW pamit kepada pamannya, lalu membalikkan badan, hendak melangkah pergi.
Ketika itulah, Abu Thalib memanggilnya. Nabi SAW pun membalikkan badan. Abu Thalib berkata, “Wahai anak saudaraku, teruskanlah dakwahmu, dan lakukanlah sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan pernah menelantarkanmu.”
Sejak saat itu, Abu Thalib menjadi garda terdepan pembela dan pelindung Rasulullah SAW hingga akhir hayat.
Kisah ini ada dalam kitab Dalail an-Nubuwwah karya Imam al-Baihaqi. Kisah ini memberi kita beberapa pelajaran penting.
Pertama, kebenaran risalah Ilahi harus terus disampaikan, bahkan jika harus berhadapan dengan kekuatan penentang yang kuat.
Kedua, kebenaran risalah Ilahi harus terus diperjuangkan tanpa takut. Rasulullah SAW mendoakan Umar bin al-Khattab.
“Semoga Allah merahmati Umar karena ia mengatakan kebenaran meskipun pahit” (HR at-Tirmidzi).
Abu Dzar juga mengatakan, “Aku diperintahkan Rasulullah untuk mengatakan kebenaran walaupun pahit” (HR Ahmad).
Bila kita diam saja tak menyampaikan kebenaran, sementara kita tahu kebenaran itu, maka kebenaran itu tak akan diketahui oleh orang. Kebenaran itu bisa jadi akan hilang dan lama-lama punah.
Bila itu terjadi, maka yang tampak ke permukaan adalah ketidakbenaran yang kemudian dianggap benar. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menegaskan, “Sampaikan dariku meskipun hanya satu ayat” (HR al-Bukhari).
Dalam Alquran, Allah SWT bahkan memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang tidak menyampaikan kebenaran, malah mereka menyembunyikannya.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Alquran), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat” (QS al-Baqarah [2]: 159).
Wallahu a’lam.
(Sumber ; www.republika.id)
Views: 19
