Prinsip Keadilan: Loyalitas dan tidak Mementingkan Diri Sendiri I Oleh AUNUR ROFIQ
Seorang penguasa selalu dihadapkan pada pilihan yang ekstrem, seperti mementingkan diri dan kelompoknya atau melayani masyarakat. Penguasa sebaiknya mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap amanah yang diemban dan memberikan pelayanan yang paripurna.
Dikisahkan bahwa Rasulullah SAW saat perang Badar, duduk di bawah naungan yang sejuk, lalu Malaikat Jibril datang menegurnya. “Muhammad, adakah kau duduk di bawah naungan yang sejuk, sedang sahabat-sahabatmu berada di bawah terik matahari yang menyengat.”
Rasulullah SAW mendapat teguran karena sikapnya. Dalam suatu hadis diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa ingin selamat dari api neraka dan ingin masuk ke surga maka seharusnya ia mengucapkan kalimat syahadat menjelang akhir hayatnya. Segala sesuatu yang tidak ia sukai untuk dirinya sendiri, maka tidak seorang pun dari kaum Muslim yang menyukai untuk diri mereka.”
Hal senada seperti nasihat Abu Hazim kepada Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, “Apabila kamu tidur, letakkan umat sebagai bantal. Segala sesuatu yang kamu sukai selalu ingin bersamanya, tapi kematian akan tetap datang merenggutmu. Sebaliknya, segala sesuatu yang tidak kamu sukai, kamu selalu ingin menghindarinya, namun kematian juga akan datang menjemputmu. Karena itu, jauhilah sesuatu yang kamu sukai itu.”
Nasihat ini jika direnungkan dengan saksama bermakna agar kita sadar bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kekal. Adapun yang pasti adalah kematian.
Oleh sebab itu, sesuatu yang menjadi kesukaan dan sesuatu yang kita benci hakikatnya tidak berbeda. Adapun nasihat untuk menjauhi sesuatu yang disukai adalah agar kita menjadi dekat pada sikap tidak mementingkan diri sendiri.
Dalam Islam telah dituntunkan oleh utusan-Nya saat hijrah bahwa kaum Anshar (Madinah) “memberikan” kepada kaum pendatang dari Makkah (Muhajirin), meski yang diberikan itu diperlukan mereka.
Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya surah al-Hasyr ayat 9, “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (anshar) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin), mereka (anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (muhajirin). Dan mereka (anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.”
Kalangan sufi membagi tiga bagian tentang orang yang tidak mementingkan diri sendiri. Pertama, orang yang memberikan setengah dari hartanya dan menahan setengahnya lagi untuk dirinya sendiri.
Kedua, orang yang memberikan sebagian besar hartanya dan hanya menyisakan sedikit untuk dirinya sendiri. Ketiga, orang yang berada dalam keadaan sangat membutuhkan tetapi masih mengutamakan kebutuhan orang lain dengan memberikan miliknya yang hanya sedikit.
Bagaimana dengan penguasa Muslim negeri ini dan negeri-negeri lainnya apakah masuk kelompok pertama, kedua, atau ketiga?
Bagi rakyat yang dipimpin, penguasa yang tidak mementingkan diri kategori manapun akan dicintai rakyat. Penguasa akan melayani rakyat dengan tulus sehingga kehidupan berbangsa akan harmonis dan kukuh.
Contoh penguasa yang ideal, seperti dikisahkan Umar bin Abdul Aziz menjadwalkan akan menyelesaikan berbagai keperluan banyak orang. Ia telah melayani mereka hingga Zhuhur hingga lelah otaknya.
Ia pun masuk kamar berniat istirahat sejenak. Lalu, anaknya datang kepadanya dan berkata, “Apa yang bakal menyelamatkan ayah jika maut merenggutnya saat ini, sedang di pintu ada orang yang menunggu karena keperluan, sementara ayah menyia-nyiakan haknya?”
Umar menjawab, “Benar kamu!” Umar pun segera bergegas dan kembali bertugas.
Kisah ini menunjukkan seorang penguasa yang mempunyai loyalitas sangat tinggi untuk melayani masyarakat yang membutuhkan. Bagi penguasa maupun calon penguasa, contohlah sikap penguasa dalam kisah di atas, maka engkau akan dicintai rakyat.
(sumber : www.republika.id)
Views: 14
